Friday, October 23, 2020

FAQ

Q: VictoryGarden.id itu apa si?

A: Kami adalah market virtual yang menjual tanaman (OPS/ Online Plant Shop) secara santuy tapi tetap santun dan serius karena moto kami adalah.....

Serius tapi santai, hidup itu harus begitu. 

Jangan terlalu santai sampai lupa tujuan awal.. 


Q: Siapa dibalik akun VictoryGarden.id?

A: Kami adalah kakak beradik. Si kakak suka koleksi tanaman dan bekerja sebagai konsultan Arsitektur. Si adik baru saja lulus kuliah, pas lulus kok ya bareng sama adanya pandemi corona. Akhirnya Kakak beradik ini memutuskan berkolaborasi menggunakan kelebihan dan kekurangan masing-masing untuk bisa memulai virtual market ini, supaya hobi kakak tetap tersalurkan dan adik tetap bisa punya pekerjaan. But overall, we want to share happiness with our plants!! ^^

Q: Servis apa yang ditawarkan?

A: OPS VictoryGarden.id umumnya menjual tanaman, tapi kami juga menerima konsinyasi (Consignment), dan plant swap untuk tanaman-tanaman tertentu, please DM us via IG for more info! :). Kalo kamu mau titip tanaman untuk kami jual boleh banget lho.. tapi untuk menjaga kepuasan teman tanaman kami tanaman akan tetap kami kurasi ^ ^.


Q: Darimanakah tanaman akan dikirim?

A: Dari Kota Depok, Provinsi Jawa Barat - Indonesia.


Q: Bisa minta refund ngga kalo tanamannya rusak?

A: Boleh banget, syaratnya tinggal kirim video ketika unboxing. Kalo tidak ada bukti mohon maaf kami tidak dapat memprosesnya. Kami akan tanggung kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh paket kami yang kurang aman, karena kami paham kunci shipping yang baik itu ada di teknik pembungkusan paket, jadi jangan lupa video unboxingnya ya. Sebagai ganti rugi kami akan kembalikan dalam bentuk tanaman pengganti sesuai stock atau uang sesuai dengan hasil musyawarah antara kedua belah pihak.  


Q: Apa yang akan kamu dapatkan?

A: Tanaman yang sehat, bersih dari hama, dan siap untuk dipajang dirumah (unless stated otherwise)

Ada tanaman-tanaman tertentu biasanya jenis "collector item" yang kami jual dalam bentuk Cutting atau memiliki daun yang kering karena proses aklimatisasi, ini tidak akan kami display tapi akan kami tawarkan dan kami berikan disclaimer jika memang teman tanaman kami berminat.

·         Tanaman yang dipersiapkan dengan baik (maksudnya gimana tu Kak?). Daunnya bebas dari debu, sidik jari mantanmu, pokoknya insyaAllah kinclong :D

·         Pilihan media tanam untuk pengiriman standar:

o       Ditanam di media tanam full media tanam + pot

o      Akar dibalut dengan sphagnum moss tanpa media tanam dengan tambahan biaya Rp 5000 per tanaman

Q: Kenapa harga tanamannya lebih mahal sedikit dari harga tanaman di penjual tanaman offline

A: Harganya ngga selalu mahal ko. Yang dijual sebenernya ada beberapa tanaman koleksi pribadi dari hasil hunting langsung ke petani dan partner penjual tanaman lokal di sekitar kami yang kemudian kami rawat dengan baik menggunakan pupuk, medianya juga sudah diganti dengan media tanam racikan sendiri dan potnya juga sudah diganti dengan yang tampilannya bisa langsung dipajang dan layak untuk dijual. Tanaman yang kami tawarkan sudah kami rawat di tangan kami minimal 2 minggu. Plus untuk pengiriman kami ingin memastikan aman, jadi ada sedikit biaya ekstra yang kami tambahkan untuk membeli kardus, lakban, bubble wrap dll. Jadi sesungguhnya banyak effort yang sesungguhnya telah tercurahkan. 

Banyak penjual offline shop yang ngga mau jual online karena biaya dan tenaga tambahan yang harus dikeluarkan untuk memastikan tanaman dikirim ke rumah kakak dengan aman. Jadi biar kita aja yang kotor tangannya, leave the hunting to us, kita akan pastikan tanaman yang kakak terima itu dalam kondisi yang terbaik. Kualitas tanaman kami upayakan selalu jadi nomer satu karena tujuan awalnya adalah untuk merawat dan mengapresiasi tanaman. ^^


Wednesday, October 21, 2020

PLANTS 0: #1 Pengelompokan Tanaman Hias

Awalnya, tanaman yang aku tau itu hanya seputar tanaman buah dan tanaman lanskap yang biasa kita lihat sehari-hari lho kaya pohon mangga, durian, rambutan, mangga, pisang, kamboja, puring, pulai, heleconia, dan ficus-ficusan segala rupa. Bisa dibilang waktu memulai hobi tanaman hias ini aku ngga terlalu paham. Tapi berkat IoT, jadi gampang banget buat akses informasi dari segala penjuru tentang tanaman hias. 

Mulai dari sharing-sharing pengalaman dan experiment plantfluencer via youtube, jurnal/literatur tentang ID tanaman, cara pengembangbiakan, dan jenis media tanaman, dan sharing-sharing sesama teman di circle sendiri yang akhirnya bikin aku mulai paham dan buat diri sendiri jadi pede dan niat buat rawat makin banyak tanaman hias. Intinya pemahaman tentang tanaman ini aku dapet dengan membaca dari berbagai sumber dan nanya-nanya dari pengalaman teman-teman sesama plant parent dan hobbyist yang baik hati, it's a process. Maklum karena emang kerjaan aku research-base, apa-apa kebiasaan diriset dulu. Emang dasar konsultan ya, haha.

Ok, enough about work.. haha, dalam blog kali ini aku mau berbagi tentang pengetahuan dasar tentang ragam tanaman hias dari hasil riset semu alias kepo-kepo online. Tulisan ini aku buat untuk teman-teman khususnya yang baru (mau) memulai menekuni tanaman hias, because I really feel how hard it is to differentiate them at first, so my intention is just to share these. It took me a lot of reading and watching those youtube experiments to finally (kind of) understand. Kalo yang udah jago mon maap skip aja ya hehe, tulisan ini mungkin terlalu cupu buat Ibu - Bapak yang sudah bertahun-tahun menggeluti tanaman hias, justru kalo ada yang salah dalam tulisan ini (jika berkenan) mohon dibimbing, dikoreksi, dan ditambahkan ya Ibu - Bapak sekalian ^^.

Ketika beli tanaman, pernah ngga si bingung ketika dengar...
Aglaonema
Dieffenbachia
Philodendron
Caladium
Alocasia
Xanthosoma
Colocasia
Schismatoglottis
Syngonium

Apa sih itu? Sama ngga si? Bedanya apa?

Terus, kalo... Monstera apa lagi?

Nah...inget ngga si dulu kita pernah belajar tentang taksonomi tanaman? Just like all living things, tanaman itu ada taksonominya.

"Plant taxonomy is the science that finds, identifies, describes, classifies, and names plants."

Taksonomi ini berguna banget buat kita bisa bedain antara satu tanaman dengan lainnya, tanaman apa yang kita beli/adopt/rawat, dan ini kaitannya dengan bagaimana kita merawatnya gampangnya si gitu. Eiits... tapi aku ngga akan seribet itu ko bahas tentang Taksnonomi, pusing!! Kita cut to the chase dan langsung aja yaa bahas hal-hal yang practical (maaf ya para ahli taksnomi, bukannya ini ngga penting, tapi saya jelasinnya juga takut kurang tepat, jadi monggo buat yang lebih paham saya persilahkan.. hehe).

Naahh.. ketika kita denger istilah kaya..
Aglaonema
Anthurium
Alocasia
Dieffenbachia
Caladium
Colocasia
Philodendron
Schismatoglottis
Syngonium
Xanthosoma


Sebenernya ini adalah genus tanaman dari Sub-famili Aroideae yang termasuk dalam Famili Araceae/Arum dalam Kelas Monokotil di Kingdom Magnoliophyta.

Which means... mereka semua adalah tanaman berbunga, berkeping biji tunggal (monokotil) yang umumnya kebanyakan tumbuh di lingkungan tropis (let me say that again, "kebanyakan"). Sebagian besar tanaman-tanaman ini mengandung Kalsium Oksalat yang membuatnya beracun, makanya jadi tanaman hias.. kalo ngga udah jadi bahan pecel atau karedok (hihi). Kalaupun emang bisa dimakan biasanya hanya bagian tertentu atau harus dimasak dulu untuk melunturkan kadar racunnya, misal Talas (Colocasia).

Terus kalo...  
Monstera
Amydrium
Epipremnum
Rhaphidophora
Scindapsus

...itu apa?

Nah kalo genus di atas "geng" (sub-famili) yang beda lagi... kalo list diatas termasuk dalam geng Aroideae, geng yang ini masuk ke sub-famili Monsteroideae; famili, kelas, dan kingdomnya si sama. Intinya nama gengnya bisa gitu karena bentuk daun maturenya bisa tumbuh guede banget daunnya dan umumya berbentuk unusual (monsterous) but to me they're shoo pretty. Tanaman di sub-famili ini biasanya merambat/menjalar, makin cucok tempatnya makin bisa gede daunnya. tanaman ini kayanya udah jadi "it" plant for the last couple of years apalagi yang varigated (udah pindah harga, bukan naik harga lagi haha), yakin deh kayanya tanaman di sub-famili ini paling banyak menghiasi rumah-rumah. Janda bolong lah, monvar, monjo, kalo arsitek-arsitek biasanya sering pake untuk melengkapi desain rumah-rumah atau bangunan lain bernuansa monokrom untuk menghidupkan suasananya. (biar ngga terkesan cold and sober lah desainnya pokoke, wkwk)

Ini belum lagi bahas famili Begoniaceae, Cactaceae, dan eaeaeae yang lainnya... 

Penjelasan tadi baru genusnya ya gais,.. B A R U   G E N U S N Y A.... 

Kita belum bahas sampe taksonomi terkecil yaitu Spesies, bare with me please... Bobo dulu ngga apa-apa ko, lanjutin baca besok aja... ehhhh just kidding, jangan dong..finish what you have started, hayo!! wkwkwk

Dari genus-genus yang diidentifikasi sama Botanis hebat kaya Heinruch Wilhelm Schoot, Eizi Matuda bisa membantu menentukan nama tanaman dan mengeksplor beragam spesies tanaman baru lainnya.

As an example, genus Anthurium itu spesiesnya banyak!! bukan cuma gelombang cinta yang (pernah) terkenal dengan harga ratusan juta (pada jamannya), tapi kuping gajah juga sebenernya termasuk genus Anthurium lho.. 
Anthurium plowmanii (ini ni nama lengkap si Anthurium yang pernah ngehits itu)
Anthurium clarinervium (kalo yang ini Anthurium favorit aku:compact, daun tebal, velvety, gelap, pokoknya ngga neko-neko cakepnya)

Anthurium crystallinum (Anthurium ini biasanya yang sering kita lihat di rumah nenek atau rumah mertua ini yang kita kenal dengan sebutan kuping gajah karena sebenernya setelah diperhatiin daunnya lebih lembut kaya kuping gajah)
Anthurium magnificum (kalo kata kang taneman biasanya disebut kuping gajah Kalong, karena literally bisa gede banget kaya kalong kalo udah mature)
Anthurium veitchii (kalo yang ini jangan tanya aku ya, tanyanya sama sultan-sultan aja, haha)
etc.

Philodendron jugaaa... ngga cuma Philo Merpati aja ya gais yang punya nama lengkap Philodendron Pedatum, there are, among others... 
Philodendron squamiferum
Philodendron billitiae
Philodendron giganteum

banyak deh serius, dan di pasaran sebenernya nama-nama yang dipake sudah mengalami akulturasi yang jadi nama pasarannya contohnya selain Philo merpati tadi ada Philo Burle Marx dan Philo Lemon Lime 

Monstera juga..
Monstera deliciosa
Monstera adansonii
Monstera pertusa
Monstera borsigiana
etc. 

My first Monstera borsigiana. Separah itu, dulu ngga bisa bedain antara  Monstera borsigiana dan deliciosa, tapi ya namanya juga proses kan,  semua orang pernah mengalami ini pastinya. Semua orang lahir dengan ketidaktahuan,  tinggal kitanya sendiri yang mau lebih tau apa ngga.


Daan masih banyak lagi.. sisanya bisa dicek kesini aja ya gais https://www.gbif.org/ pegel euy ngetiknya. Makanya banyak kaan tanaman hias yang bisa kita koleksi. Dengan kita tau dan pelan-pelan mulai menghafal dan mengamati kita bisa jadi lebih yakin (harusnya) dengan apa yang kita collect, biar jangan sampai tanaman hias yang kita beli ternyata adalah gulma.. wkwkwk

Selamat mengkoleksi!!!

Tuesday, October 20, 2020

PLANTS!!!



Yes, I'm starting my long lost hobby again for a while (a long while) after I got all caught up in work-marriage-parenting life. This cloudy pandemic had somehow given me a chance to start my hobby again since I spend more time at home than I usually do now.

I will be turning my blog into a series of my planting experience. Please note that I'm not an expert, I do not hold any degree in Botany or Agriculture and most of my suggestions are either based on my personal experience or some journals/ trusted source of literature, hasil sharing dengan plant parent/ plant hobbyist lainnya.

And oh I also work full time in an Urban Design/Architecture company, trying my best to create future cities fit for kids to run around. So I might be slow in responding your messages, DM, and such, saya hanya manusia biasa yang mencoba untuk multitasking tapi tetap santai untuk menjaga kewarasan duniawi yang semakin runyam. BTW saya KTP emang Jaksel, jadi kalo bahasanya setengah-setengah gini mohon maklum aja ya, hihi.

So stay tuned!!

Sunday, November 23, 2014

LPDP PK 22

From November 16 to 22, the highly anticipated PK22 program took place. What’s PK? Program Kesehatan (Health Program)? Program Kesejahteraan (Welfare Program)? Nope! PK stands for Persiapan Keberangkatan (Pre-Departure Preparation). Previously known as the Leadership Program, the name has evolved over time while retaining the same core objectives. Organized by LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) of the Republic of Indonesia, PK is a mandatory follow-up program for LPDP Master's and Doctoral scholarship recipients after the administrative selection, interviews, and Leaderless Group Discussion (LGD).

The purpose of PK is to prepare awardees before they depart for their respective universities. The program covers sessions on scholarship regulations, leadership qualities, national pride, social contribution, and mental and physical preparation.

Personal Experience

Since August 25, 2014, I had been pursuing a Master’s degree in Urban Design at ITB. I was already accepted as an LPDP awardee after passing the selection process in July 2014. To attend PK22, I had to take a five-day academic leave. At the time, I was two months pregnant and planning my wedding with my husband, who had also been accepted to ITB's Master's program in Architecture Design.

Initially, I worried that my pregnancy might affect my performance during PK. To my surprise, the organizers and fellow participants were incredibly supportive. I was even excused from the outbound activities to minimize risks, which showed the program's respect for my condition. This was truly heartening—proving that women, despite their natural roles, are still supported by the government to pursue education and participate fully in professional development.

Challenges and Growth

One memorable challenge during PK was the live-tweeting task. Participants with the highest number of followers were expected to post 22 tweets per session daily. Social media was not my forte; I usually used Twitter only for reading news or casual chats. At first, this task seemed nearly impossible. However, with determination and help from friends, I managed to do it—a personal achievement that taught me the value of persistence.

Lessons Learned

PK22 was filled with valuable lessons and unforgettable experiences. The speakers, with their diverse backgrounds, offered fresh perspectives on life and professional growth. I was deeply inspired by their insights.

A special thanks to my incredible group, Ali Sastroamijoyo.

  • Ramda: Thank you for reminding me about pre-PK assignments and for your amazing video projects.
  • Agus: You kept our spirits high even during tough times, using a megaphone when your voice was nearly gone.
  • Maduma: Your discipline kept us punctual and successful, even when we asked you to step forward multiple times during ice-breaking sessions.
  • Mba Tika, Mba Indah, and Albert: Thanks for helping me with live-tweeting tasks.
  • Mas Amos: Your dedication during outbound activities helped us win the paintball session.
  • Mas Yutmen and Mas Darus: Your teamwork during Sharing and Inspiration Class motivated and inspired the students at SMA PGRI Depok.
  • Mba Yuni and Mba Maryam: Thank you for sharing valuable advice on family life and pregnancy.
  • Mas Antoni and Mba Yuki: Your ideas sparked new inspiration for my thesis.
  • Fandi: Your dedication to pre-PK tasks, even staying up for days without sleep, motivated me to work harder.
  • Mas Oni: Thank you for allowing me to assist with choreography and for engaging discussions during seminars that kept me awake.
  • Mba Veni: Your positive words and daily check-ins kept my spirits up.

Special thanks to my roommates: Dr. Intan, who monitored my health daily, and Sarahi and Zuhra, my confidants during the program.

I initially expected to meet great people at PK22, but I found people who were beyond exceptional. Their kindness, determination, and experiences taught me so much.

Lastly, a big thank you to Mas Rofi, our evaluator, who took great care of me and my group throughout the program. Your support meant a lot.

PK22 was a life-changing experience that reinforced my belief in Indonesia's future. I am hopeful that each of us will contribute to building a better nation. Amin.

Friday, February 22, 2013

Goede Morgen!

Things I miss today....


Blooming daffodils in spring, taken April 6th 2011

Kim's inner courtyard, April 7th 2011

-

IMPERIAL KITCHEN DUCK NOODLE

Before the day ends, I might as well capture some scattered thoughts. Today was genuinely exciting — perhaps "overwhelmingly happy" better describes my mood. Despite spending most of the day lazing around at the office, I deserved it. I had stayed up until 4 a.m. working on the layout for the Abang Mpok Depok Grand Finals 2013 proposal, then managed just a few hours of sleep before heading back to work.

The day was technically designated for R&D at the office, or as I like to call it, a "break." It kicked off with a presentation on Townships and New Towns (Kota Baru) by one of the assistants, which was quite interesting. I arrived late after the previous night's overtime marathon, compounded by lingering tasks that had kept me up.

The landscape team was busy rearranging their R&D case studies to meet a pressing product deadline for our Hong Kong headquarters. Normally, my supervisor Agnes would help, but she was out sick. So I opted to stay focused on my current priority: completing a project in Senggigi — a 20-hectare resort development. It was my first "solo" project, from baseline analysis and design sketches all the way to the final report, which I finally wrapped up today for submission on Monday. Achieving this amidst the chaos felt like a win.

Later in the afternoon, out of nowhere, Mas Bon messaged me asking if I'd like to join him for his favorite meal: Imperial Kitchen Duck Noodles and Singaporean Sautéed Beans. By 3 p.m., he declared he was leaving Bandung and suggested we meet at Margo City in Depok. Knowing Jakarta's legendary traffic, Depok was the logical compromise.

After finishing my work around 7 p.m., I rushed to catch the train, excited but exhausted. Seeing him was such a relief after a long, hectic day. He stood there in his red Pirelli jersey and grey checkered Bermudas, his familiar scent lingering — the same one he mischievously sprayed on my knitwear before dropping me off at home. I hate saying goodbye to him. I hate being apart. But this is a challenge I need to face: learning how to be unattached, despite loving someone deeply. It sucks, but I remind myself — absence makes the heart grow fonder, right?

What touched me most was his effort to make the meeting happen. In a long-distance relationship, where we're 120 kilometers apart, working in different provinces, and often limited to weekends (if lucky), these moments matter. It's not about the duration but the quality — the feeling of being in someone's presence.

Long-distance relationships thrive on intentionality. As much as technology helps, nothing compares to in-person conversations and shared moments that strengthen the bond. And tonight, that effort made all the difference





Monday, February 18, 2013

A dull morning

Test. *finally tried blogging with my iphone* still getting the hang of it, me and touchscreen are very prone to typos. But I still prefer the usual desktop, plus the conventional keyboards. hehhe but its nice to see that Ill be able to reach my blog on mobile 😊.

Good morning!